<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1743184593625601709</id><updated>2011-12-13T05:15:47.301+07:00</updated><title type='text'>islam religius  paece</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>verry ali Saputra</name><uri>https://profiles.google.com/116346644453650374252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/-xRcwcJFvpAc/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABCI/P--WwSfAvOo/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1743184593625601709.post-7013844667058946200</id><published>2010-02-18T23:07:00.001+07:00</published><updated>2010-02-18T23:09:49.169+07:00</updated><title type='text'>Ulama Penakluk singa</title><content type='html'>Ibnu Thulun adalah seorang raja keturunan budak milik Amir Nuh bin Asad, anak buah Khalifah Makmun. Karena pengaruh lingkungan, Ibnu Thulun seperti memiliki dua akal. Yang satu seakan bersama malaikat, dan yang satunya bersama setan.Saat memerintah dia bagai malaikat yang suci. Namun di lain waktu dia seperti setan yang jahat. Ketika jiwa malaikatnya muncul, dia cinta kebaikan dan beramal baik. Namun, saat jiwa setannya keluar dia bersikap jahat hingga rakyat tidak tahan lagi dan mengadu pada Imam Abil Hasan Ahmad bin Banan atau dikenal dengan Ibnu Banan. Seorang ulama yang dikenal berani menegakkan kebenaran dan tidak takut kepada celaan siapa pun.Ibnu Banan bergegas menemui Ibnu Thulun yang sedang mengumpulkan menteri dan pemuka masyarakat. Ia lalu berkata, “Wahai Ibnu Thulun, bertaqwalah pada Alloh dan jangan mezalimi rakyat. Kelak, di hadapan Alloh kau akan bertanggung jawab atas semua perbuatanmu, yaitu di hari ketika harta dan anak tidak bisa memberi manfaat apa-apa kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang lurus dan bersih. Ketahuilah, orang yang mendustai rakyatnya tidak akan mencium bau surga!”Seketika, suasana dicekam keheningan. Bagaimana mungkin Ibnu Banan berani berbicara seperti itu di hadapan Raja.Raja Ibnu Thulun bergetar, mukanya merah padam dan berkata dengan marahnya, “Hai Abu Hasan, bagaimana kau berani melakukan hal seperti itu di depan orang banyak? Tetapi tak apa, aku akan mengampunimu jika kamu mau meminta maaf kepadaku di hadapan orang banyak.”Ibnu Banan menjawab, “Aku tidak melakukan dosa. Aku memberi nasihat..!”Dengan gusar Thulun berteriak pada prajuritnya, “Seret orang gila ini ke penjara! Siapkan singa paling ganas dan jangan beri makan selama tiga hari. Biar orang gila ini yang akan jadi santapannya!”Ibnu Banan menyahut tenang, “Umur di tangan Alloh. Kau hanyalah hamba dari sekian banyak hamba Alloh. Kau tidak mampu memendekkan dan memanjangkan umurku.”Para prajurit menyeret Ibnu Banan dan mencebloskannya ke dalam penjara. Tiga hari kemudian, Ibnu Banan diambil dari sel dan diletakkan di tempat yang cukup lapang yang menyerupai kolosium. Orang-orang datang menonton singa kelaparan yang akan mencabik-cabik tubuh Ibnu Banan. Singa itupun langsung loncat dan mengaum keras bagai suara guntur. Orang-orang yang menonton sudah merinding, sedangkan Ibnu Banan tenang bersujud pada Alloh Swt.Tatkala singa mendekati Ibnu Banan, tiba-tiba berhenti lalu duduk dan menundukkan kepalanya. Ternyata ia tidak memangsa Ibnu Banan. Akan tetapi malah menjilati kaki beliau dan menggesek-gesekkan kepalanya pada Ibnu Banan penuh persahabatan.Menyaksikan hal itu, semua orang yang menonton, menjadi takjub tak terkira. Lebih-lebih Ibnu Thulun dan para prajuritnya. Lalu, Ibnu Thulun memerintahkan kepada para prajurit untuk mengembalikan singa itu ke kandangnya dan membawa Ibnu Banan ke hadapannya. Ibnu Banan akhirnya kembali berdiri di hadapan Raja Ibnu Thulun dengan menegakkan kepalanya. Sang Raja bertanya, “Bagaimana keadaanmu, Abu Hasan?”“Alhamdulillah, baik-baik saja seperti yang kau lihat. Aku hanya membaca firman Alloh. “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan TUhanmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS Ath Thuur : 48). Seketika, Raja Ibnu Thulun bangkit dan mencium kepala Ibnu Banan, meminta maaf kepadanya dan membebaskannya. WAllohu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1743184593625601709-7013844667058946200?l=islam4thepeace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/feeds/7013844667058946200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/ulama-penakluk-singa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/7013844667058946200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/7013844667058946200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/ulama-penakluk-singa.html' title='Ulama Penakluk singa'/><author><name>verry ali Saputra</name><uri>https://profiles.google.com/116346644453650374252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/-xRcwcJFvpAc/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABCI/P--WwSfAvOo/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1743184593625601709.post-677491417643584507</id><published>2010-02-18T23:04:00.001+07:00</published><updated>2010-02-18T23:07:43.084+07:00</updated><title type='text'>Bau Wangi Wanita Penyisir Rambut</title><content type='html'>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, yang dijawab Jibril bahwa itu adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun yaitu Masyithah dan anak-anaknya.”Rosululloh bertanya, ”Bagaimana bisa?”Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Alloh)”Putri Fir’aun berkata, “Hai, bukan bismillah tapi dengan nama bapakku..!” Masyithah berkata, “Bukan, Alloh adalah Tuhanku, Tuhanmu dan juga Tuhan bapakmu. Tiada Illah selain Alloh.”Putri Fir’aun berkata, “Kamu punya Tuhan yang bukan ayahku?” Masyitah menjawab, “Ya. Tuhan kita semua hanya satu, yaitu Alloh.” Anak putri Fir’aun berkata, “Akan aku laporkan pada ayahku…!”Wanita tukang sisir menjawab, ‘Silahkan!’Putri Fir’aun kemudian melaporkan pada bapaknya, dan Fir’aunpun memanggil Masyithah.Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai Tuhan yang bukan aku?” Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.”Fir’aun-pun marah hingga memerintahkan prajuritnya untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata pada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kantong untuk kemudian dikuburkan.”Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.” Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Karena iba melihat bayinya yang tanpa dosa harus menanggung kematian itu Masyithah nampak ragu-ragu.Atas izin Alloh tiba-tiba Si bayi berbicara, “Terjunlah Ibu, Terjunlah..! Adzab dunia jauh lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini? “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1743184593625601709-677491417643584507?l=islam4thepeace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/feeds/677491417643584507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/bau-wangi-wanita-penyisir-rambut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/677491417643584507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/677491417643584507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/bau-wangi-wanita-penyisir-rambut.html' title='Bau Wangi Wanita Penyisir Rambut'/><author><name>verry ali Saputra</name><uri>https://profiles.google.com/116346644453650374252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/-xRcwcJFvpAc/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABCI/P--WwSfAvOo/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1743184593625601709.post-6136162576388785178</id><published>2010-02-18T23:01:00.001+07:00</published><updated>2010-02-18T23:04:00.613+07:00</updated><title type='text'>Dia Yang Begitu Peduli</title><content type='html'>Malam itu Madinah senyap, hawa dingin menusuk tulang. Namun sesosok bayangan itu terus mengendap-endap berjalan keluar dari rumah sederhananya. Masih seperti malam kemarin, ia kembali menyusuri jalan tanpa seorangpun. Rumah demi rumah, kampung demi kampung ia amati dengan cermatnya, memastikan tak ada mara bahaya. Sungguh hampir setiap malam tak dapat ia pejamkan mata sebelum yakin bahwa kotanya baik-baik saja. Tak akan pernah rela ia berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala.Madinah telah usai ia susuri, malam hampir di puncak, namun ia masih terus berjalan. Letih tergambar jelas dalam desah nafasnya. Sesekali ia labuhkan pandangan ke langit Madinah yang bertabur manik-manik cahaya. Sesungging syukur ia bisikkan pada Sang Pencipta atas nikmat yang ia dapati hari itu. Tak terasa Madinah sudah ia tinggalkan dan langkahnyapun jauh hingga keluar kota.Namun sesaat ia terhenti demi dilihatnya seorang lelaki duduk sendirian menghadap sebuah pelita. “Assalamu’alaikum wahai Fulan..” sapanya santun. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian,” tambahnya. Namun lelaki pemilik tenda itu tidak jadi menjawab ketika dari dalam tendanya suara perempuan mengaduh memanggilnya. Terbata-bata ia memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan sedangkan tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.Berlari sekuat tenaga ia-pun pergi meninggalkan lelaki di depan pelita. Secepatnya ia menuju rumah sederhananya di jantung kota. Letih mendera namun ia terus saja berlari. Dengan alas kaki yang tipis dan penuh lubang dimakan usia terasa jelas ia rasakan perihnya batu-batu yang dipijaknya sepanjang jalan, namun ia terus berlarian.“Ummu Kultsum, bangunlah..! Ada kebaikan menanti kita malam ini,” Dengan nafas tersengal ia bangunkan istrinya. Dan Alloh-lah yang menjadi saksi bagaimana mereka berdua kini berlari membelah malam menuju tenda dimana seorang lelaki sendirian menunggu istrinya melahirkan.Umm Kultsum segera masuk membantu persalinan. Dan tak seberapa lama tangis bayi membahana memecah kesunyian malam. Dan lelaki pemilik tenda itupun bersujud mencium tanah. Kemudian ia menghampirinya sambil berkata, “Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?”Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena hampir bersamaan suara Ummu Kultsum memecah lengang udara, “Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah.”Sahabat, terpesona kita mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Meskipun seorang pemimpin negara, namun sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai seorang yang sederhana tanpa gelimang harta. Ia orang yang amat berkuasa, namun kisah hidupnya begitu dipenuhi dengan kerja keras mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Dialah yang sanggup berlari tanpa henti demi menolong seorang perempuan melahirkan yang bahkan tak dikenalnya sendiri, tak dikenal apa latar belakang agama, suku atapun nasabnya. Dan ia melakukannya sendirian….Sahabat, mari kita jadikan kisah ini sebagai ibroh bagaimana seharusnya kita ikhlas dan tulus berbuat untuk sesama..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1743184593625601709-6136162576388785178?l=islam4thepeace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/feeds/6136162576388785178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/dia-yang-begitu-peduli.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/6136162576388785178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/6136162576388785178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/dia-yang-begitu-peduli.html' title='Dia Yang Begitu Peduli'/><author><name>verry ali Saputra</name><uri>https://profiles.google.com/116346644453650374252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/-xRcwcJFvpAc/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABCI/P--WwSfAvOo/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1743184593625601709.post-7126136961043668570</id><published>2010-02-18T02:51:00.000+07:00</published><updated>2010-02-18T02:53:32.094+07:00</updated><title type='text'>about islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="n3" id="pd1"&gt;What is Islam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The name of the religion is Islam, which comes from an Arabic root word meaning "peace" and "submission." Islam teaches that one can only find peace in one's life by submitting to Almighty God (Allah) in heart, soul and deed. The same Arabic root word gives us "Salaam alaykum," ("Peace be with you"), the universal Muslim greeting.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="n3" id="pd2"&gt;Who is a Muslim?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A person who believes in and consciously follows Islam is called a Muslim, also from the same root word. So, the religion is called "Islam," and a person who believes in and follows it is a "Muslim."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1743184593625601709-7126136961043668570?l=islam4thepeace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/feeds/7126136961043668570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/about-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/7126136961043668570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1743184593625601709/posts/default/7126136961043668570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islam4thepeace.blogspot.com/2010/02/about-islam.html' title='about islam'/><author><name>verry ali Saputra</name><uri>https://profiles.google.com/116346644453650374252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/-xRcwcJFvpAc/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABCI/P--WwSfAvOo/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
